Saturday, October 3, 2020

Bab 12 Karya Inovasi & Kualitas Diri

 

Pemateri : Bapak Tri Agus Cahyono

 

Mengawali karir sebagai seorang guru di SD Negeri Belik Tepus Kecamatan Tepus, Gunung kidul tidak mematahkan semangat bapak Tri untuk selalu berprestasi. Lahir di Pacitan, 22 Agustus 1982,

Beliau menamatkan pendidikan terakhir Program Studi Pacsasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Magister Pendidikan Dasar-IPA tahun 2015 melalui beasiswa P2TK Dikdas dengan predikat Cum Laude. Aktif sebagai ketua KKG Gugus V Purwodadi, Tepus Gunungkidul, DIY.

Sederet penghargaan beliau raih diantaranya sebagai Guru Berdedikasi Daerah Khusus TK. Nasional Tahun 2016, Juara I Perlombaan Karya Inovasi Pembelajaran TK. Nasional Tahun 2016 kategori MIPA, Penghargaan Short Course ke Jepang Tahun 2017, Finalis Olimpiade Guru Nasional (OGN) TK. Nasional Guru Kelas SD Tahun 2018 dan Finalis Guru Berdedikasi TK Nasional SD 2019.

 

Beliau akan berbagi ilmu melalui pengalaman- pengalaman inspiratif dengan tema “ Karya Inovasi & Kualitas Diri"

 

Berdasarkan taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Krathwool, Karya inovasi adalah sebuah tahapan puncak dari proses berfikir. Jadi ketika kita menginginkan sebuah karya inovasi yang baik, maka kita tidak boleh melewati tahapan- tahapan berfikir kognitif, yakni

1. Mengingat (C1)

2. Memahami (C2)

3. Menerapkan (C3)

4. Menganalisa (C4)

5. Mengevaluasi (C5)

6. Menciptakan (C6)

 

Dalam menciptakan karya inovasi harus belajar menguasai materi keilmuan dari karya tersebut. Sebagai contoh ketika final lomba Karya Inobel, yang dinilai bukan hanya tertuju pada karya tersebut akan  tetapi bagaimana penciptanya memahami, menerapkan menganalisis karyanya tersebut , si inovator akan ditelisik oleh dewan juri melalui presentasi dan tanya-jawab.

 

Cara kita belajar untuk meningkatkan kualitas diri dan sekaligus menciptakan sebuah karya inovasi adalah dengan bekerja.

 

Setelah semua tahapan dilalui akan muncul rasa ketidakpuasaan akan sesuatu dan di sinilah muncul daya cipta manusia untuk menciptakan sesuatu yang baru untuk berinovasi dengan tidak mengabaikan empat hal yakni : "APIK"

1. Asli (karya sendiri)

2. Perlu (berguna )

3. Inovativ

4. Konsisten

 

Beliau melanjutkan dengan kisah mengenai pengalaman berinovasi dan telah memperoleh penghargaan inobel 2016 dengan media “Planetarium Bekam”. Media ini adalah hasil dari ketidakpuasaan terhadap media konvensional yang selama ini kami gunakan yaitu globe. Ketika menggunakan globe dalam pembelajaran IPA untuk menerangkan materi pergerakan Bumi & Bulan, anak dipaksa berfikir secara abstrak. Terdapat kesulitan ketika anak membandingkan globe yang diperagakan dengan lampu senter lalu menghubungkan dengan kejadian nyata antara Bumi, matahari, dan bulan. Disinilah ketidakpuasan terhadap globe muncul, Kita analisis kelebihan dan kekurangan globe dalam menjelaskan materi tersebut. Kelebihan yang dimiliki ialah model yang paling sesuai, mudah digunakan dan tersedia di sekolah . Kekurangan pada media ini adalah tidak bisa menampilkan bagaimana penampakan langit  dari bumi saat di peragakan.  Khusus pada gerak semu atau bukan gerak sebenarnya anak sangat kesulitan untuk menerima konsep tersebut

 

 

 

Selama bertahun- tahun penggunaan globe sebagai media bisa dibilang mengecewakan, karena anak-anak nampak tidak termotivasi dan berpengaruh pada prestasi belajar mereka yang kurang memuaskan.

Saya simpulkan dengan yakin bahwa motivasi sangat berpengaruh keberhasilan dan prestasi, dan melalui inovasi yakni media “Planetarium Bekam”dapat lebih mempermudah observasi dan menambah motivasi belajar siswa.

 

Semangat guru memuncak setelah mengikuti kuliah beliau malam itu, semangat berkarya semangat berinovasi.

 

Semangat Menulis dan Berkarya !

Salam Literasi

 

 

No comments:

Post a Comment

Jatuh Bersama Hujan

dingin gelap berselimut seiring tetesan air jatuh kala itu sejuknya melelapkan mata yang lelah gemuruh terdengar seketika menutup telinga li...