Tidak pernah terbayangkan bagaimana seorang guru mengajar tanpa siswa di sekolah dan bagaimana siswa belajar tanpa guru. Corona, sang virus yang tidak hentinya mengelilingi dunia, melumpuhkan manusia satu demi satu hingga tidak berdaya. Dia tidak nampak, ukurannya begitu kecil hingga tak terlihat. Untuk menghindari penyebaran virus berbahaya ini maka pemerintah memutuskan masyarakat Indonesia untuk tetap di dalam rumah selama 14 hari.
Dampak khususnya sangat terasa dalam berbagai aspek, perekonomian, industri, khususnya Pendidikan. Sistem pendidikan otomatis berubah total, yang dulunya siswa berangkat ke sekolah bersalaman dengan guru, mencium tangan, bersenda gurau dengan kawan, bermain sepak bola bersama teman, mengadakan upacara bendera setiap Seninnya berbaris rapi sambil hormat kepada Bendera, saat jam istirahat memakan bekal bersama di depan kelas dan saling berbagi.
Kini, hal- hal demikian hanya sekedar harapan. Untuk mencegah penyebaran virus semakin meluas, berbagai aturan baru dibuat. Siswa untuk sementara waktu tidak boleh berangkat ke sekolah, belajar dilaksanakan dirumah melalui daring, via whatsapp untuk menghindari kerumunan sehingga dapat mencegah atau memutus rantai penularan virus corona -19.
Awalnya kegiatan belajar di rumah dilaksanakan selama dua minggu, namun tak terduga penyebaran virus semakin merajalela hingga mendunia. Dan system belajar di rumah pun diperpanjang hingga kondisi aman.
Walau siswa tidak ke sekolah, guru tetap melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pengajar. Situasi genting seperti ini tidak akan menyurutkan semangat seorang guru untuk membimbing siswa belajar meski dari jarak jauh.
Sangat diperlukan kerja sama yang baik antara guru dan orangtua siswa, karena orangtua mengambil peran sementara seorang guru untuk mengajari anaknya di rumah. Guru memberi materi dan petunjuk pembelajaran melalui daring lalu orangtua meneruskan petunjuk tersebut kepada anaknya menjelaskan ke anaknya dengan bahasanya sendiri. Tidak jarang orangtua mengeluhkan bahwa anaknya sulit memahami matei yang diberikan bahkan ada saja orantua yang mengekuh dia sendiri tidak bisa membaca bagaimana mungkin bisa mengajrkna anakny membaca.
Itulah segelintir kendala dalam masa sulit seperti sekarang ini, khususnya dalam bidang pendidikan.
Selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Orangtua kini lebih memahami bagaiman kesulitan guru selama ini dalam mendidik siswa- siswa di kelas. Betapa sabarnya seorang guru saat mengajar, betapa lelahnnya guru saat menertibkan siswanya yang pandai berkelit dan gemar berulah. Namun, semua itu kini menjadi kenangan bagi guru, rindu bertatap muka dengan siswa, rindu perilaku siswa yang membuat guru geleng- geleng kepala, rindu siswa maju di depan kelas dan memimpin doa.
Rindu menyapa mereka.
Semoga pandemi ini segera berlalu,aamiin.
Salam senang menulis!
No comments:
Post a Comment