Sebagai
seorang guru di salah satu sekolah yang bernaung di bawah pimpinan yayasan
perusahaan Sawit, saya merasa cukup bangga dengan keadaan dan lingkungan kerja
yang professional, disiplin telah menjadi hal yang lumrah disini , guru adalah
model bagi peserta didiknya, dan itulah mengapa guru dituntut menjadi model
yang baik, memberi contoh yang baik. Sebelum jam 7 guru sudah ada di pintu
depan kelas menanti kehadiran siswa untuk memberi salam ramahnya, bersalaman
mencium tangan dan mempersilakan siswa masuk kelas kemudian duduk tertib sambil
berbincang dengan teman sejawatnya. Ada pula yang memilih bermain terlebih
dahulu di lapangan sekolah, bermain sepakbola, berlarian kejar- kejaran,
adapula yang menanti bel sekolah berbunyi dengan membaca buku di pojok baca.
Kondisi ini tak disangka- sangka tidak akan saya temui lagi akibat corona,
virus covid 19 yang melanda selurh penjuru dunia dengan sangat tak terduga
merubah kebiasaan lama dan karena protokolnya yang kita ketahui bersama demi
terputusnya mata rantai penyebaran virus melalui udara, air liur, benda yang
disentuh dan lain sebagainya,menuntut aturan baru bagi pemerintah untuk menutup
sementara sekolah dan tidak mengijinkan siswa pergi kesekolah demi keamanan
bersama. Guru tetap berangkat ke sekolah memberi tugas kepada siswa di rumah
melalui daring.
Pertengahan
bulan September tahun 2020 Pembelajaran Daring SD Wijaya Kusuma di mulai,
pembelajaran yang dilakukan melalui media online yaitu whatsapp group .Melalui aplikasi ini, masing- masing kelas membuat
grup kelas dan setiap pagi siswa diminta untuk menginformasikan kehadiranny
saat hari itu, lalu guru memberi bimbinagn belajar kepada siswa dibantu dengan
orangtua siswa di rumah untuk mengerjakan tugas berupa modul yang telah diberikan
setiap hari Sabtu ke setiap area dan akan dikumpulkan Sabtu depannya lagi di
tempat yang sama.
Setiap
hari siswa mengerjakan tugas pada modul tersebut dan member laporan hasil
kerjanya melalui foto untuk dikirimkan ke wa wali kelas atau wa grup kelas.
Banyak
sekali kekurangan yang di rasakan dari sistem belajar seperti ini diantaranya
khusus siswakelas satu, kelas yang saya ampuh. Anak- anak bisa dibilang 65%
belum memahami huruf otomatis belum bisa membaca dengan lancar, maka oleh sebab
itu orangtualah yang berperan sanagt
besar alam mengajrkan anaknya di rumah saat ini. Ibu membacakan materinya lalu
anak menghafalkan atau orang tua membacakan soal lalu anak yang menjawab, namun
tidak bisa di pungkiri bahwa beberapa orangtua mengerjakan tugas anaknya agar
memperoleh nilai bagus.
Inilah
kekurangan daring, guru tidak mampu menilai kemampuan siswa sebenarnya, karena
beberapa tugas dikerjakan oleh orangtua siswa, dan hal ini sangat di sayangkan.
Harapan
saya, semoga pandemi ini segera berlalu agar siswa dapat kembali belajar di
sekolah berkumpul kembali dengan teman- teman dan meraih prestasi belajar yang
tinggi.
Semangat
menulis ! Salam Literasi!
No comments:
Post a Comment